(Belajar dari Freddie Mercury dan Queen)

Minggu lalu saya sempat menonton film “Bohemian Rhapsody” bersama belasan sahabat saya. Menarik dan menyenangkan sekali melihat film bersama teman yang seusia (kami dulu pernah kuliah bersama di ITB angkatan 1986), dan mempunyai selera musik yang sama. Kami begitu excited bahkan kami menyablon kaos bertuliskan Queen. Kebayang betapa semangatnya kami pada saat film itu menampilkan replika concert concert Live-Aid Wimbledon 1985 (yang dihadiri 70,000 orang) di Imax theatre! A great experience.

Film itu sendiri membahas tentang Queen, band yang mendunia di masa lalu, dengan lead vocalnya, Freddie Mercury (lahir sebagai Farrokh Bulsara). Di situ terlihat betapa dominannya peran seorang Freddie Mercury, sehingga fans pun mulai confused apakah mereka sebenarnya mencintai Queen atau mencintai Freddie Mercury. Bahkan akhirnya Freddie Mercury pun sempat membuat beberapa solo album. Puncaknya adalah pada saat akhirnya Freddie Mercury meninggal dunia, Queen pun mulai kehilangan rohnya , dan kharismanya pun meredup perlahan-lahan.

Ternyata banyak organisasi seperti itu. Real Madrid baru saja terpuruk setelah ditinggalkan Ronaldo ke Juventus. Manchester United sedang terseok-seok di papan tengah setelah ditinggalkan Alex Fergusson yang pensiun.

Dan sebenarnya hal yang sama terjadi di dunia bisnis. GE performance turun sejak kehilangan Jack Welch. Nokia kehilangan rohnya sejak Jorma Ollila turun tahta. Apple sedang diuji apakah mereka akan terus sukses semenjak ditinggalkan Steve Jobs. Dan Alibaba akan diuji karena Jack Ma baru saja mengumumkan bahwa dia turun tahta.

Jangan-jangan hal yang sama sedang terjadi pada anda dan tim yang anda pimpin. Hal ini sering terjadi karena memang “menjadi leader itu ternyata berat” (biar aku saja, kata Dilan, he..he..he). Pada saat anda (dan tim anda perform) semua orang sering terpukau dan kagum kepada anda (sebagai leadernya). Banyak yang lupa bahwa tanpa peran teamnya , seorang leader (sepinter apapun dia), tidak akan mampu berbuat apa-apa. Seperti halnya Jacky Chan yang tak akan mampu beracting (tanpa puluhan stunt man-nya). Sindroma ini pun dialami oleh Queen. Seharusnya mereka benar-benar menjadi sebuah tim yang solid dan tidak bergantung hanya kepada Freddie Mercury. Mestinya they rely to everybody in the team, and consider them as equally important.

Well, good bye Queen. Kami masih mendengarkan lagu-lagu kalian, tetapi tak akan ada lagi lagu baru yang kalian ciptakan atau kalian luncurkan. Leadernya Queen, Nokia, Manchester United, Real Madrid, GE, adalah contoh-contoh leader yang tidak mampu mengubah phenomena “great performer” menjadi “great leader”.
Pada saat anda menjadi leader, fokusnya bukan pada anda, fokusnya pada team anda dan organiasasi anda.

Anda tidak akan selamanya berada di team itu (atau di organisasi itu). Apakah anda rela bahwa waktu anda tidak ada di situ lagi, kemudian teamnya (atau organisasinya) akan runtuh berantakan? Credibility anda sebagai leader tidak hanya ditentukan pada saat anda masih memimpin, tetapi juga pada saat anda tidak ada di situ lagi. Apakah anda menyiapkan sistem yang kokoh? Apakah anda mendidik calon pengganti anda? Dan apakah anda memastikan bahwa semuanya akan berjalan dengan baik setelah anda tidak di situ lagi?

Tanggung jawab seorang leader bukan hanya untuk mengembangkan bisnisnya, tetapi juga untuk mengembangkan teamnya. Dua-duanya sama penting!

Berarti sudah saatnya kita semua mengembangkan diri kita dari hanya sekedar “Great Individu”, menjadi “Great Leader”.
How to do it? Lets follow the recommendation bellow….

a) REDUCE YOUR EGO
First thing first, kurangi ego anda. Sebagai seorang leader anda tidak menjadikan kesuksesan anda pribadi sebagai yang paling penting. Yang paling penting adalah kesuksesan tim anda dan kesuksesan bisnis anda. Jangan khawatir, nanti kesuksesan anda akan datang sendiri setelah kedua hal itu terjadi.

b) FIND COMMON PURPOSE
Temukan purpose yang sama. Temukan objective yang sama. Yang akan membuat tim anda selalu bersama sama dalam suka maupun duka. Tetap bertahan meskipun banyak tantangan dan hambatan, karena ada sesuatu yang akan dicapai bersama di balik masa-masa sulit itu.

c) IDENTIFY THE COMPLEMENTARY SKILLS SET

Catat skills yang dimiliki oleh setiap team member. Idealnya skills set para team member itu saling melengkapi. Jadi memang team itu mengandalkan kemampuan setiap anggota karena keunikan mereka masing-masing. Di sinilah kita saling menghargai karena kemampuan setiap anggota yang tidak dimiliki oleh anggota yang lain.

d) IDENTIFY YOUR POTENTIAL SUCCESSORS, DEVELOP THEM

Evaluasi mereka , tentukan siapa yang akan bisa menggantikan anda. Kembangkan , didik , latih dan jadilah coach yang baik bagi mereka. Ingat pada saat anda individual performer anda dilihat dari performance anda. Pada saat anda menjadi leader, anda dilihat dari performance bisnis dan kemampuan anda mengembangkan tim anda.

e) CELEBRATE EVERY SINGLE SUCCESS
Last but not least, jangan lupa , celebrate every single success together. Jangan tunggu sampai akhir perjalanan, masih terlalu panjang. Make every quick win counts, celebrate with them.

Jadi ingat ya, to transform ourselves from a great performer to a great leader, lets consider implementing the 5 steps bellow:

a) REDUCE YOUR EGO
b) FIND COMMON PURPOSE
c) IDENTIFY THE COMPLEMENTARY SKILLS SET
d) IDENTIFY YOUR POTENTIAL SUCCESSORS, DEVELOP THEM
e) CELEBRATE EVERY SINGLE SUCCESS

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

Kategori: Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *