Dewi bekerja di sebuah perusahaan asing di Indonesia. Dia baru saja pulang setelah menyelesaikan 3 tahun job rotasi dari Inggris.  Dan setelah 3 bulan di posisi ini, Dewi tidak bisa menyembunyikan frustasinya. Setiap kali dia mengajak teamnya untuk memulai sesuatu inisiative baru, selalu saja teamnya menjawab,”But … that’s not how we did it in the past” Tapi dulu kita tidak mengerjakan seperti itu. Dan meskipun Dewi selalu berusaha menjelaskan bahwa mereka harus mengganti cara baru untuk mencapai objective yang baru, masih saja Dewi melihat “ketidakikhlasan” di mata mereka. “I dont what to tell them, they really need to move their focus from the past to the future”.

Fons Trompenaars dalam bukunya “Riding the wave of culture” menuliskan bahwa memang beberapa bangsa itu lebih berorientasi ke masa lalu (India, China, Indonesia). Sementara banyak bangsa-bangsa barat lebih berorientasi ke masa depan. Waktu saya kuliah di Perancis tahun 1987, walikota Paris sudah mempunyai visi “Paris 2010”. Seorang teman saya yang bekerja di sebuah perusahaan Eropa sudah bisa menceritakan apa visi perusahaannya untuk tahun 2030, lengkap dengan 9 inisiatif yang akan mereka lakukan. Looks how far beyond the create the vision for the future.

Sementara India masih saja mengulang-ulang cerita kejayaan Mahabarata, China mengulang-ulang kejayaan Dinasti Ming, dan Indonesia masih mengulang-ulang menceritakan masa kejayaan kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Which is good, kita harus membangkitkan rasa confidence kita sebagai bangsa , dan kemudian harus segera mengganti fokus kita kepada masa depan! Saya nggak yakin banyak yang bisa menjawab tentang “Indonesia itu akan seperti apa dalam 10 tahun ke depan?” How does our country will look like in 10 years?

Jadi kita ini ternyata terlalu banyak fokus ke sejarah, dan lupa merencanakan masa depan.
Makanya beberapa pembangunan kita seperti tidak terarah.

Parahnya, masih juga mengingat-ingat masa lalu… 
dulu kita jaya….
kita dulu adalah bangsa yang besar….
kayaknya presidennya lebih bagus presiden yang dulu (Sambil menggambar wajah presiden jaman dulu di truk truk Pantura dan menuliskan “enak jamanku mbiyen le”)

Why do we even have to compare with him? It is in the past!
With all my respect to him, we cannot bring him back here, so lets move on and stop comparing with the past ….

By the way, this is valid for our country, our business, our career our family….
– Do you know how the company will look like in 3 years
– Do you know how your family will look like in 3 years
– do you know how your career will look like in 3 years

Use your past to create the inventory of your strength, to build a solid fondation for the future.

Gunakan masa lalu anda, untuk membuat inventory kekuatan anda yang akan menjadi fondasi yang kokoh untuk masa depan anda. Bagi orang orang yang berfokus pada masa depan, long term goal akan menjadi dasar kegiatan dan aktivitas sehari hari.

This keeps them ambitiously working, saving, and planning for a better.

Future-focused people are more successful professionally and academically.

But if they focus too much on their future, they often do not fully appreciate the present. Think of the stereotype of the successful executive who is always too busy for his family. (Friends and family require your attention to be in the present.

On the other hand, 
Present-focused people actively seek activities and relationships that bring pleasure, variety and short-term payoffs. They avoid anything requiring effort, maintenance, or routine. They’re playful and impulsive, engaging in leisure activities (until it becomes boring).

They are the least likely to be successful.

While some present-focus is needed to enjoy life, too much present-focus can compromise your life of the deeper happiness of accomplishment.

Tentu saja jawabannya adalah dengan mem-balance kan masa sekarang dan masa depan.

Terus bagaimana dong … supaya kita bisa terus menerus perform well (and enjoy) during the present while focusing on the future?

1. Define your goals (what you want to achieve) in 3-5 years time
Pikirkan apa yang ingin anda capai dalam 3-5 tahun ke depan.

2. Define how you will achieve your goals (how, values, way of working, dos and dont)
Pikirkan bagaimana anda akan mencapainya? Anda tidak akan menghalalka segala cara kan? Pikirkan apa yang anda boleh lakukan dan yang anda tidak boleh lakukan.

3. Work hard (while keeping yourself in the values that you defined)
Setelah rencana, plan dan strategy nya kelar, it is time to implement them.
Bekerjalah sekeras kerasnya untuk mencapai goal anda , tanpa melanggar nilai nilai yang sudah anda sepakati dengan diri anda sendiri.
You need to have strong commitment to yourself.

4. Balance the work hard and reward
Seimbangkan kerja keras anda dengan reward, take-a-break, hobby dan passion anda.

5. Continue to learn
Terus meneruslah belajar. Ikuti perkembangan terakhir.
Ubah cara anda memandang sebuah masalah.
Siapa tahu ada skills baru yang mempercepat kerja anda.
Siapa tahu goal anda harus diganti.
Siapa tahu anda harus pindah industry.
Siapa tahu anda harus menambah network baru.
Watch. 
Listen. 
Observe. 
Learn. 
Improve.

Selamat mencoba!

 

Salam Hangat

Pambudi Sunarsihanto

 

Sumber: Pambudi Sunarsihanto
Kategori: Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *